Jumat, 27 Juli 2012

Berbeda Awal Puasa Namun Tetap Semangat



Oleh : Ana Ramadhayanti

Tidak terasa puasa sudah hampir satu minggu lebih, namun semangat kerja tim BSI TV  dan FM masih tetap semangat.  BSI TV sendiri terbagi dalam dua divisi, yaitu divisi news dan divisi produksi.  Masing-masing divisi memiliki tugas serta tanggung jawabnya masing-masing.

Untuk divisi news memiliki peran serta tanggung jawab dalam berita, mulai dari mencari berita, menyusun sampai dengan penayangan berita itu sendiri. Meskipun berpuasa, namun tim bsi news tetap melakukan peliputan berita. Mereka tetap semangat menjalankan aktifitas peliputan meskipun sedang menjalani ibadah puasa. Namun pada dasarnya memahami pekerjaan yang dilakukan merupakan kiat untuk melakukan pekerjaan tersebut.  “ Awalnya saya harus memahami terlebih dahulu apa pekerjaan saya. Setelah saya mengetahui hal tersebut maka saya harus totalitas dalam sebuah pekerjaan, meskipun sedang berpuasa. Lagi pula puasa bukan penghambat aktifitas, tidak ada orang sakit atau pun mati gara-gara puasa, ujar Nadia Pujiasih selaku reporter divisi news.




















JAKARATA, 27/08 – BSI NEWS LIPUTAN.  Dua orang tim BSI news  Coky (kiri) dan Hari (Kanan) sedang melakukan peliputan, di Tanah Abang, Jakarta, Jum’at, (27/08).  Peliputan terkait tema Ramadhan. 

Berbeda halnya dengan divisi news, divisi produksi lebih bertanggung jawab dalam proses produksi acara. Meskipun tim ini sedang melakukan ibadah puasa, namun tidak mematahkan semangat mereka untuk menciptakan hasil tayangan produksi. Segala bentuk aktifitas apapun jika dilakukan dengan niat, maka akan membuahkan hasil yang memuaskan.  “Awalanya dimulai dengan nawaitu. Begitu pula bengan bekerja, harus dimulai dengan nawaitu. Setelah itu harus disadari bahwa bekerja merupakan sebuah tanggung jawab, apalagi saya dalam bidang sinematografi. Kalau dibulan puasa tidak produksi, maka program tidak tayang donk”, ujar  Achmad Haikal selaku kameramen di divisi produksi. 




















JAKARATA, 27/08 – BSI TV.  Salah satu anggota divisi produksi Achmad Haikal mengedit di Gedung BSI Salemba,  Jakarta, Jum’at, (27/08). 

Selain menayangkan berbagai acara tv, bsi juga memberikan sajian musik yang tersaji dalam BSI FM.  Tidak kalah dengan tim yang ada didivisi news atau produksi, divisi BSI FM juga tidak kalah semangatnya dalam melakukan aktifitas siarannya. Menyadari secara kodrati bahwa bekerja merupakan ibadah, hal ini pula yang membuat tim BSI FM semangat dalam melakukan aktifitas siarannya. “ Menurut saya bekerja itu adalah ibadah. Jadi meskipun puasa,  harus tetap semangat dalam bekerja”, ujar Muhamad Tsabit Kepala Station Divisi BSI FM.





















JAKARATA, 27/08 – BSI FM SIARAN.  Dua orang penyiar BSI FM , Muhamad Tsabit (kanan) bersama dengan Ray (kiri), Sedang siaran di Gedung BSI Salemba,  Jakarta, Jum’at, (27/08).  Muhamad Tsabit dan Ray sedang membawakan salah satu program rutin dari BSI FM.

Melakukan aktifitas dibulan puasa bukan merupakan suatu penghambat. Dengan semangat dan niat menjalankan ibadah puasa, maka puasa yang kita jalani tidak akan terasa sulit. Ini  berarti pula bahwa puasa merupakan satu ibadah yang unik. Tentu saja banyak segi keunikan puasa yang dapat  dikemukakan, misalnya  bahwa  puasa  merupakan  rahasia  antara  Allah  dan pelakunya  sendiri.

Ramadhan bukan alasan untuk kita bermalas-malasan. Di bulan yang penuh berkah ini semua ibadah wajib yang dilakukan dilipatgandakan Allah pahalanya. Jadi merugilah kita yang lalai dan tidak mengisi ramadhan ini dengan ibadah, serta kegiatan yang bermanfaat sebanyak-banyaknya.

Senin, 02 Juli 2012

OPINI



Apabila Islam dihinakan..Apa yang harus kita lakukan..Bangkitlah!"(Lyric Bait Perjuangan-Shoutul Harakah)

       Batin ini merintih, Liberalisme tak ubahnya seperti jambu busuk, yang luarnya mulus tapi dalamnya penuh dengan belatung,pembusukan ini kian menerpa umat Muslim saat ini. Perjuangan mereka kian elegant, dengan cara memasuki berbagai ranah, seperti ekonomi, organisasi , bahkan masuk ke lembaga formal seperti Sekolah Menenga Atas dll, maka itu kita perlu membentengi diri, dan menyiapkan bekal keimanan yang lebih besar lagi. Allah SWT Berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu". .

    Liberalisme seolah mempunyai tujuan untuk menggoyahkan, meski tidak memberikan informasi baru, tapi mereka mencoba membuat wacana wacana yang bertentangan dengan keyakinan kita, Tapi bisa dipahami oleh logika. Berdasarkan pengamatan saya pada jurnal dan blognya JIL serta pengalaman saya berbincang dengan teman yang terindikasi JIL, kemudian berdiskusi dengan teman-teman yang tahu bagaimana JIL Bergerak, maka saya simpulkan beberapa hal mengenai JIL diantaranya:

1. Mengusung Humanisme

    Ini hal yang sangat melekat pada pemikiran mereka.Humanisme yang mereka terapkan itu dalam hal cinta damai sebenarnya, tapi jadi mengkerucut menyamaratakan semua agama. Kadang mereka juga menyebut Humanisme ini Memanusiakan Manusia. Makanya, tak Heran jika mereka mendukung Ahmadiyah untuk terus menyebarkan agamanya, karena JIL merasa itu hak mereka. Mereka malah mendukung pasca Islamisasi karena dikaitkan dengan permasalahan Mesir ,yang ketika diambil alih oleh partai Islam, malah terjadi pergolakan, tapi selalu yang disudutkan adalah hukum Islamnya, padahal kita perlu teliti kembali, apa yang sebenarnya terjadi di Mesir. Sebagai Muslim harus bergerak, meluruskan pemahaman ini, karena orang awam bahkan orang yang hanif sekalipun, ketika dijelaskan tentang Humanisme ala JIL, pasti mereka akan sangat mendukung JIL, karena JIL sangat baik salam menyikapi perbedaan di negara yang plural ini. Tapi jelas, sebagai Muslim, kalau kita merasa apa yang dilakukan JIL itu benar, berarti hampir saja kita kerasukan JIL. Pada sebuah Esay Liberal dalam situsnya berjudul Hari AIDS Sedunia; Agama Perlu Bicara Lebih dari Sekedar Moral,bahkan mereka menyudutkan tindakan ustadz/tokoh agama yang melakukan pembinaan hanya melalui pembinaan moral, mereka lebih menyetujui aksinya Nurul Arifin yang menyebarkan kondom guna untuk seks yang aman. Innalillahi, banyak hal yang sudah mereka buat terkait pemikiran bebas ini, bahkan Keyakinan mengenai Allah saja masih mereka pertanyakan. Ada banyak hal juga yang harus jadi pembelajaran untuk kita, mereka memang cerdas dalam menggunakan logikanya, usahanyapun keras, silaturrahmi merekapun kuat. Mereka sering merekrut dengan kebaikan mereka dan dalih cinta damai, dengan cara promotori orang2 cerdas untuk kuliah, kemudian bergabung dalam usaha yang besar, sampai ada yang bicara seperti ini: "Ustadz2 kita, mana ada yang bisa sampai sepeka itu, yang masih ingat junior2nya, bahkan dipromotori kuliah". Dan saya tengok diri saya.. Muslim itu tidak miskin, ini adalah PR kita untuk bangkit, Sukses, dan peka dengan kebutuhan Ummat.. Mari kita buktikan bahwa kita seorang Muslim.

2. Mempertanyakan Kebenaran

   Ini juga menurut saya dampak dari Humanisme, karena menurut mereka mencari kebenaran adalah hak semua manusia, banyak hal yang mereka pertanyakan tntang hal mendasar terutama tentang aqidah. Padahal mereka para tokoh yang belajar agama, tapi begitu menyepelakan aqidah,wajar tangis kita pecah. Tidak ada toleran bagi mereka yang menyebarkan penyesatan Aqidah. Siang tadi saya mendengarkan radio Silaturrahim, membahas keyakinan, dan saya jadi mengingat lagi ayat-ayat mengenai Penguatan dari Allah atas Kebenaran Islam. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”

    Dan saya jadi teringat lagi akan wahyu yang terakhir yaitu Surat Alma'idah ayat 3 yang berbunyi:

"... Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucukupkan nikmatKu kepadamu, dan telah Kuridhai Islam menjadi agamamu ...." (Al Maidah:3)

Ikhwah, mari maknai itu dengan dalam, sangat dalam, jangan gentar jangan goyah. Tenang saja, Islam itu agama yang kasih syang, memberikan Rahmat untuk semuanya. Plurarisme sudah diatur juga dalam Islam. Bahkan dalam Islam ada sebuah ketetapan untuk melindungi kafir Dzimmi, jangan termakan oleh logika berfikir bebas. Ingat saja pada waktu Isra' Mi'raj, hanya Abu Bakkar yang percaya perkataan Rasulullah, sehingga diberi gelar As-Shidiq.Allah SWT Berfirman dalam Surat Al-Baqarah 256:

“Tidak ada paksaan dalam beragama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.."

Memang jelas, Allah tidak memaksa, tapi ayat selanjutnya ada penguatan lagi dari Allah bahwasanya telah jelas jalan yang benar. Subhanallah..ikhwah fillah mari maknai ini dengan sangat dalam.. IsyHaduu BiAnna Muslimuun..

"Katakanlah " Wahai ahlul-kitab! Marilah kemari! Kepada kalimah yang sama di antara kami dan di antara kamu.” yaitu bahwa jangan lah kita menyembah melainkan kepada Allah, dan jangan kita menyekutukan sesuatu dengan Dia, dan jangan menjadikan sebahagian dari kita akan sebahagian menjadi Tuhan-tuhan selain dari Allah. Maka jika mereka berpaling, hendaklah kamu katakan: Saksikanlah olehmu, bahwasanya kami ini adalah orang-orang yang Islam." (Ali Imran:64)

Jaga diri kita, Jaga Keluarga Kita, Jaga Shabat kita, Jaga orang-orang disekeliling kita. Wala' dan Bara' harus bergema biar gentar musuh-musuh kita. Wallaahu A'lam BisShawwab

REPORTASE



KAJIAN AKHIR SEMESTER


Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallaah, kutipan ayat dilontarkan oleh Ustadz Abdurrahman Rahiim alHafidzh saat memulai kajian akhir semester Quran Institute UNJ (27/6/2012). Berat langkah, panasnya cuaca, kadar oksigen dalam otak yang terasa mulai menipis seolah tidak terasa kembali saat diingatkan ayat ini. Karena, hadirnya peserta pada kajian ini merupakan salah satu azzam agar bisa menjadi pembaca Al Quran yang baik dan penghafal yang baik. Dengan merekomendasikan buku:"Syakhsiyah Qur'aniyah" untuk dibaca, materi berlanjut pada tema Urgensi Belajar Quran Sepanjang Hayat. Ustadz Abdurrahman, menyebutkan Hadits yang menyemangati ia belajar dan bersahabat dengan Al-Quran:

Akan dikatakan kepada sahabat Al Quran “Bacalah dan naiklah (ke derajat yang tinggi), serta tartilkanlah sebagaimana kamu mentartilkannya ketika di dunia, karena kedudukanmu pada akhir ayat yang kamu baca.” (Hasan shahih, HR. Tirmidzi)
yang berhasil mentartilkannya adalah orang yang selama di dunia menghafal Al-Quran,"ustadz Abdurrahman menegaskan.  Berlanjut kepada pembahasan tadabbur qur'an dengan mengutip ayat: Afalaa yatadabbaruunalQuraan (An-Nisa;82) yang berarti Maka tidaklah mereka mendalami AlQura'an. Ustadz memaparkan ketika manusia mentadabburi Al-Quran, maka akan mengobati hati apalagi ketika sesuai dengan permasalahan. Kisah Nabi Yakub a.s dalam surat Yusuf bisa jadi renungan. ayat 86 surat Yusuf, ‘…sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…’
Beliau berpesan bahwa: Kalau menghafal harus Istimror (terus menerus), syumul dan komperehensif. Sambil mengemukakan keutamaan menghafal surat Ali Imran dan AlBaqarah, karena surat tersbut yang lebih dahulu membela:
“Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur`an bersama mereka yang mengamalkannya di dunia. Yang terdepan adalah surah Al-Baqarah dan Ali Imran, keduanya akan membela mereka yang mengamalkannya.” (HR. Muslim no. 805)


REMAJA BUTUH AKAR YANG KUAT








Remaja membutuhkan akar yang kuat berupa pembinaan akhlak bukan hanya sekedar bisa membaca Al-Quran tanpa memahami makna, ujar pak Bakhtiar seorang pembina Rohis SMP 91

          Lelaki berkantung mata tebal tampak bersemangat memberikan pembinaan pada siswa/i SMP 91, Jakarta Timur, yang dilaksanakan setiap sabtu. Dulu, sangat terbantu oleh kakak alumni yang turut melakukan pembinaan berkelompok, namun kini semua sudah berkeluarga, ujarnya. Tidak hanya di tingkat SMP, pembinaan kelompok pun terdapat di beberapa rohis Sekolah maupun tingkat universitas. Pembinaan ini biasa disebut menthoring atau focus group discussion. Hampir semua yang mengikuti pembinaan ini mengalami perubahan, terutama dalam moral, kemudian dari segi pakaian dan pandangan semakin syar'i. Lain hal nya di tingkat SMA dan SMP. Pembinaan pada ranah Madrasah baik MTS maupun MAN tidak begitu berkembang sebagaimana mentoring yang ada di SMA maupun SMP. Ada kemungkinan karena MTS dan MAN sudah hampir setiap hari memberikan pelajaran agama. Jadi, mentoring tidak menarik lagi, mereka membutuhkan pembinaan yang lebih ke arah skill. Pelajaran Agama yang diberikan oleh madrasah kebanyakan lebih ke arah pengetahuan, sedangkan remaja kita sangat membutuhkan pemahaman bukan sekedar pengetahuan agama. Mentoring itu membina akhlak, menyucikan jiwa, dan memperdalam pemahaman bukan sekedar pengetahuan, ujar alumni MAN yang pernah merasakan mentoring. Meskipun sudah lengkap dengan pengetahuan agama, namun siswa/i madrasah banyak yang kering akan pemahaman agama. Jadi apabila mentoring itu sudah tidak menarik lagi karena siswa/i madrasah sudah lebih banyak pengetahuan agama, jelas itu tidak tepat, karena mereka masih kering akan pemahaman, terbukti dari alumni madrasah yang mengikuti mentoring.


           Kesulitan mengembangkan mentoring/pembinaan yang bersifat kelompok di Madrasah disinyalir karena warga sekolah termakan isu radikalisme yang dikaitkan dengan tindakan ekstrimisme seperti pemboman dsb, atau bahkan termakan isu jaringan-jaringan yang bertolak belakang dengan Islam. Padahal Ekstirmisme dan Radikalisme itu berbeda. “Setiap orang yang mengajarkan Al wala’ wal Baro’ akan dicap sebagai orang fundamentalis. Setiap orang Islam pasti muaranya Al wala’ wal Baro" ujar ustadz Aris Munandar dalam bedah buku Konspirasi Gerakan Deradikalisasi.  Padahal keislaman seseorang itu bermuara pada wala' (mencintai apa yang Allah cintai) dan bara' (membenci apa yang Allah benci). Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam: "Tali iman paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah." (HR. Ibnu Jarir) 


               Pemahaman yang parsial maupun pengetahuan yang tidak dibarengi dengan pemahaman dapat membuat sesorang merasa pintar dan mudah melakukan "judgment" pada kegiatan-kegiatan yang sebenarnya berbau syariat. Hal ini yang terjadi pada Kementrian Agama baru-baru ini terkait korupsi pengadaan Al Quran. Pengetahuan agama didahulukan daripada pemahaman agama ketika menjaring pegawai Kemenag dsb. Alat evaluasi tertulis rasanya tidak bisa membuktikan bahwa orang itu memahami agama atau tidak, karena tes tertulis lebih banyak mengukur pengetahuan. Degradasi moral ini terjadi karena tidak adanya rasa wala' dan bara' pada oknum yang terkait.

        Kembali kepada akar yang kuat, jika dilihat dari keilmuwan, Masa remaja disebut juga masa adolesence. Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Dipertegas dalam pendapat Anna Freud (dalam Hurlock, 1990)  bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan denperti gan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan. Kemudian ditambah lagi oleh hasil penelitian Erick Erikson dalam teori psikososial bahwa usia remaja itu masuk kedalam tahapan Identity vs identify confusion (identitas vs kebingungan identitas). 


          Pembinaan yang menggunakan pendekatan Qur'ani seperti mentoring sangat dibutuhkan remaja dalam proses pencarian jati diri. Karena jika dasar keislamannya kuat, maka remaja akan kuat menempuh kehidupannya, sehingga tidak tergerus zaman, dan menjadikan Al Quran sebagai pedoman, dengan mengimani apa yang ada didalamnya, bukan sekadar mengetahui. Sehingga dalam setiap langkah terngiang:
"Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.QS. al-baqarah:2"

Ukhuwah Indah



dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(Al-Anfal, QS. 8:63)

Ukhuwah itu bukan terletak pada pertemuan, bukan pula pada manisnya ucapan dibibir, tetapi pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doanya (Imam Al Ghazali).


17/6/2012-Setu Babon,Ciracas, beberapa orang dri keluarga media pena birru (isti, imam, dan iwan) ditambah seorang personel dari media memo merah (Tom Ayyubi) tengah berkunjung ke kediaman personel penabirru (naisa maulidia). Sayang sekali, ketua pena birru (ana), dan sekertaris penabirru (anton surahmat) berhalangan hadir, padahal ini moment keluarga yang luarbiasa. 





Sabtu, 30 Juni 2012

Jadilah pemuda yang di banggakan Allah swt didepan para malaikatnya oleh Sutiawan sadra


Pemuda yang  dibanggakan Allah di depan para malaikat-Nya
*Oleh Sutiawan Sadra


Engkau harus mengetahui bahwa, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya  engkau hidup disuatu zaman ketika orang-orang yang mengaku berada di jalan kebenaran sangat sedikit jumlahnya… kaum muda mereka adalah para pelaku dosa dan ulama-ulama mereka adalah para hipokrit” khalifah Ali bin Abi Thalib kwz.
Remaja dengan tuntutan zaman sekarang, membuat  remaja tidak mengenal identitas dirinya. Identitas sebagai tombak untuk menopang agama. Tapi mereka sebagai umat yang mengenal agama sudah  melalaikan suatu hal yang sangat penting, salah satunya mereka melalaikan kitabnya sendiri.
Mungkin sangat sedikit dari penduduk Indonesia  khususnya remaja yang memperhatikan dan mengkaji kitab mereka, terkecuali bagi mereka yang mengkhususkan sendiri mempelajari kitab agama mereka. Mereka masih memperhatikan dan mereka masih punya waktu untuk mempelajari kitab agama mereka.
Sekarang kita lihat sikap remaja masa sekarang, mereka menganggap diri mereka sebagai muslim, tapi kita patut mempertanyakan kemusliman mereka. Dengan berbagai tantangan zaman masihkah seorang pemuda muslim yang tidak ada rasa dalam dirinya untuk mempertahankan agamanya sendiri, masihkah bisa bertahan ?
Pergaulan yang sangat begitu bebas dikalangan remaja, memungkinkan remaja untuk melupakan kitab agamanya.  Mari kita persempit bahasan ini kepada agama islam. Remaja atau kita sebut saja pemuda-pemudi islam, yang waktu dulu ketika zaman Rasulullah saw mereka menjadi pedang bagi islam. Mereka adalah kerang yang bisa menyimpan dan menjaga  kilau mutiara islam. Mereka dengan segenap kekuatan dirinya mereka menjaga dan menjalankan syariat islam. Menghidupkan hukum-hukum islam dalam kehidupan mereka.
Tapi, apa yang terjadi terhadap pemuda-pemudi zaman sekarang, terlebih khusus di Negara Indonesia. Pembicaraan tentang al-Quran di kalangan para pemuda-pemudi sepertinya sangat jarang sekali bahkan nyaris tidak pernah terbersit dalam pikiran mereka.  Coba kita lihat kenyataannya, di dalam perkumpulan para pemuda-pemudi sekarang saat mereka memperbincangkan sesuatu hal, kalau tidak tentang fashion, sepak bola, film, atau juga tentang karir mereka. Apalagi ditambah sekarang sedang demam sepak bola Europa, seuatu yang mustahil mereka tidak memperbincangkannya dan al-Qur’an sudah kalah banding dengan sepak bola.
Padahal, hakikatnya manusia itu untuk mencari kesempurnaan, iya kan? Mereka bekerja setiap hari, mereka belajar terus menerus untuk mendapatkan kesempurnaan.  Mereka tidak menyadari ataukah memang tidak mengetahui bahwa mereka mempunyai panduan  Ilahi yang sangat mampu mengantarkan manusia menggapai tujuannya yaitu kesempurnaan.
Panduan Ilahi itu adalah Al-Qur’an Al-Karim. Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Allah yang mulia yaitu sayyidil wujud Muhammad saw.  Al-Qur’an menjadi sebuah kitab petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa dan tidak ada keraguan di dalamnya.
Sungguh kita telah tertipu oleh hal-hal dunia yang membuat mata, pikiran dan hati kita telah meninggalkan al-Qur’an. Padahal yang menjadi wasiat Rasulullah saw adalah jangan sampai kita meninggalkan al-Qur’an. Sekarang kita lihat begitu banyak dari kalangan umat muslim khususnya para pelajar yang lebih tertarik dengan mempelajari ilmu-ilmu yang lain dan mengabaikan al-Qur’an. Mereka tidak tertarik terhadap penelitian al-Qur’an, mungkin dalam pemikiran mereka mempelajari al-Qur’an tidak akan menghasilkan materi yang banyak, dalam kata lain tidak bisa menunjang kesenangan hidup. Berbeda dengan mempelajari ilmu-ilmu yang lain, seperti mempelajari ilmu perhotelan atau mungkin pariwisata yang lulusannya bisa langsung mendapatkan posisi untuk mereka bekerja.
Ini semua adalah merupakan kekeliruan, pandangan  para pemuda telah berubah haluan. Seandainya kita tetap berdiam diri dalam perkara ini, kita akan terus terjebak dalam kegelapan kehidupan. Kita tidak mengetahui hakikat penciptaan dari manusia sendiri. Kalau kita ibaratkan al-Qur’an dengan yang lainnya, ibarat kita menjalankan amanat dari Presiden Negara dengan menjalankan amanat dari ketua Rt. Memang pengibaratan ini tidak begitu sebanding, karena al-Qur’an itu adalah sesuatu yang agung. Hanya saja kalau kita lihat disini ada sebuah tingkat derajat yang begitu sangat berbeda. Kita akan lebih mendapatkan sebuah penghargaan besar apabila kita menjalankan amanat dari seorang presiden, yang bisa jadi amanat  ketua Rt pun sudah tercantum di dalamnya. Maksudnya amanat ketua Rt pun sudah termaktub di dalam amanat presiden.  
Selain itu mempelajari al-Qur’an mempunyai sisi lain yaitu kita mendapatkan pahala dalam ketaatan kepada-Nya. Dalam hadits  Rasulullah saw bersabda, “ sesungguhnya mahluk yang paling dicintai Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah anak muda yang menghabiskan usia muda serta ketampanan atau kecantikannya itu dijalan Allah dan dalam ketaatan kepada Allah semata. Anak-anak muda (dengan kehendak, ketaatan, dan beramal saleh) seperti itulah yang dibanggakan Allah swt di hadapan para malaikat-Nya sambil berkata,’ ini lah hamba-hamba-KU yang sejati ‘”.
Semoga para pemuda-pemudi islam sadar akan perkara yang menimpa mereka saat ini. Disaat tuntutan zaman yang seakan-akan mengharuskan mereka memilih salah satu antara keduniaan dan agama. Padahal keduanya ini dapat berjalan bersamaan seandainya kalau mereka mengetahui akan penempatan porsi dan posisi keduanya. Dalam syair dikatakan “Barang siapa Allah (akhirat) tujuannya, niscaya dunia akan melayaninya. Namun siapa dunia tujuannya niscaya kan letih dan pasti sengsara, diperbudak dunia sampai akhir masa.”
Mari kita jadikan diri kita sebagai pemuda yang Allah banggakan didepan para malaikatNya, yaitu para pemuda-pemudi yang menghabiskan masa ketampanan dan kecantikannya dalam ketaatan  pada Allah semata, yaitu salah satunya dengan mempelajari kitab (al-Quran) yang diturunkan oleh-Nya yang tidak ada keraguan didalamnya. Pemuda-pemudi yang mengisi masa mudanya dengan ketaqwaan kepada-Nya.